Dorong Kemandirian Benih Kentang, Bimtek ICARE Kenalkan VUB Granola L & Mikroba Hayati di Kanreapia
GOWA – Upaya memperkuat kemandirian perbenihan kentang bermutu di Kabupaten Gowa terus dilakukan melalui program Integrated Corporation Agricultural Resources Empowerment (ICARE). Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Perbenihan Kentang yang dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kanreapia, Kabupaten Gowa, Senin (14/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh petani dan pengurus Koperasi Bawakaraeng Maju Bersama, Desa Tombolo Pao, Kecamatan Kanreapia. Bimtek menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas petani dalam penerapan teknologi perbenihan kentang sekaligus mendorong terbentuknya penangkar benih kentang yang mampu menghasilkan benih bermutu secara mandiri di tingkat kawasan.
Bimtek secara resmi dibuka oleh Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Gorontalo, Ardi Praptono, S.P., M.Agr. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Mutu Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH) Provinsi Sulawesi Selatan serta Prof. Dr. Ir. Yusuf Darsa, M.P. selaku narasumber.
Materi pelatihan difokuskan pada pengenalan dan penerapan Varietas Unggul Baru (VUB) Granola L serta pemanfaatan mikroba hayati Bacillus subtilis dalam budidaya kentang. Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari pendekatan budidaya yang mendukung pengelolaan tanaman secara lebih efektif dan ramah lingkungan.
Pemanfaatan Bacillus subtilis diarahkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus membantu pengendalian organisme pengganggu tanaman tertentu, termasuk patogen yang berasal dari tanah. Integrasi teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam memperkuat kesehatan tanaman dan mendukung peningkatan kualitas produksi kentang.
Berdasarkan kondisi budidaya yang selama ini dilakukan petani setempat, sekitar 200 kg bibit dapat menghasilkan 1 ton kentang, dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp15 juta pada tingkat harga Rp12.000 per kilogram. Melalui penerapan teknologi perbenihan yang lebih terstandar, peningkatan produktivitas dan mutu benih menjadi salah satu sasaran yang didorong dalam kegiatan ICARE.
Selain peningkatan kemampuan teknis, Bimtek juga diarahkan untuk membangun kapasitas penangkar benih di tingkat petani. Kegiatan tersebut menargetkan terbentuknya lima petani penangkar yang terdaftar dan terlatih untuk selanjutnya dipersiapkan menuju proses sertifikasi, dengan dukungan 25 petani mitra sebagai calon penangkar.
Penguatan kapasitas penangkar diharapkan dapat mendukung Koperasi Bawakaraeng Maju Bersama dalam memenuhi kebutuhan benih kentang secara lebih mandiri. Dengan tersedianya sumber benih di kawasan, ketergantungan terhadap pasokan benih dari luar daerah diharapkan dapat dikurangi secara bertahap.
Kawasan lereng Gunung Bawakaraeng, khususnya wilayah Kanreapia dan sekitarnya, memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra perbenihan kentang. Melalui penerapan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan kelembagaan petani, potensi tersebut dapat diarahkan untuk mendukung penyediaan benih kentang bermutu secara berkelanjutan.
Program ICARE melalui kegiatan Bimtek ini menjadi bagian dari upaya mendorong penerapan inovasi teknologi pertanian agar dapat memberikan manfaat langsung di tingkat petani. Penguatan perbenihan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada terbentuknya sistem perbenihan yang lebih mandiri, terstandar, dan berkelanjutan.
Melalui sinergi antara BRMP Gorontalo, BPSB-TPH Provinsi Sulawesi Selatan, tenaga ahli, penyuluh, koperasi, dan petani, pengembangan perbenihan kentang di Kabupaten Gowa diharapkan dapat terus diperkuat. Langkah tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap modernisasi pertanian sekaligus pengembangan kawasan perbenihan yang mampu memberikan nilai tambah bagi petani.